“ Milan harus marah, dan sekarang kami sedang marah “ ucap Leonardo menjelang lawatan ke stadion Marc’antonio Bentegodi, kandang Chievo Verona dalam lanjutan pertandingan Serie A pekan ini. Pertandingan itupun dimenangi Rossoneri dengan skor 2-1. Bintang lapangannya adalah centerback kawakan Alessandro Nesta, keduanya dengan sundulan kepala. Kemenangan tersebut bukan sekedar soal 3 angka dan mengatrol posisi Milan pada papan klasemen, kecuali itu kemenangan tersebut adalah langkah nyata untuk menegaskan konsistensi Milan yang sempat terseok-seok sejak awal musim. Mengawali musim dengan mengalahkan Siena, Milan lalu lebih sering dihantui kekalahan dan hasil imbang. Kekalahan paling menyakitkan adalah ketika dibantai rival sekota mereka Inter Milan dengan skor mencolok 4-0. Tak ayal, inilah pukulan dahsyat yang membuat mental para pemain anjlok.
Lalu datanglah pertandingan minggu lalu pasca jeda pertandingan internasional. Menjamu Roma di San Siro. Penting untuk diingat, skuad Ranieri itu selalu merepokan Milan dalam beberapa pertandingan terakhir. Hal itu semakin terlihat, ketika di awal babak pertama Milan harus kemasukan gol lebih dulu melalui sepakan Jeremy Menez. Pemuda flamboyan itu melesakkan gol setelah merebut bola dari umpan backpass Tiago Silva yang kelewat lemah. Babak pertama berakhir dengan skor 1-0 untuk Roma. Di babak kedua Milan relativ membaik. Permainan bola-bola pendek diperagakan. Hasilnya? 2 gol! Pertama dari kaki Ronaldinho lewat titik putih, dan gol kemenangan dicetak Alexander Pato. Berselang 3 hari setelah pertandingan itu, Milan kembali harus melawan raksasa Eropa, Real Madrid pada lanjutan Liga Champions. Walaupun tak sedikit yang menganggap perhelatan itu sebagai Derby Eropa mengingat reputasi kedua tim, namun tak ada yang mengunggulkan Milan kecuali pelatih mereka sendiri. Hampir semua bursa taruhan dan polling menjagokan Madrid. Terlebih pertandingan akan dilangsungkan di Santiago Barnabeu, stadion dimana Milan tak pernah menang. Memang skor sementara adalah imbang. Dari 11 kali pertemuan, baik Milan maupun Madrid sama-sama menang 5 kali. Satu pertemuan berakhir seri. Hal itu semakin terlihat ketika peluit kick off ditiupkan. Benar, bahwa permainan kedua tim imbang. Tapi hal itu berubah ketika gol pembuka kemenangan Madrid di cetak pangeran mereka, Raul Gonzales setelah memanfaatkan blunder fatal Dida. Praktis, setelah itu babak pertama adalah milik Madrid. Namun entah apa yang dikatakan pelatih Milan di ruang ganti, yang jelas di babak kedua permainan Milan lebih ngotot dan menggigit. Rasanya, lahirnya gol tinggal menunggu waktu saja. Dan benar, mendapat bola dari lemparan ke dalam Andrea Pirlo sang katalisator permainan Milan menggiring bola beberapa meter dan selanjutnya menendang bola langsung ke arah gawang. Dan gol!!! Iker Casilas hanya bisa menunduk sembari memungut bola dari dalam gawangnya. Tendangan itu tidaklah terlalu keras. Tapi bentuknya yang indah. Menyisir sisi kanan gawang Madrid. Setelah itu pertandingan makin seru dan panas. Dan akhirnya keluarlah Milan sebagai pemenang. Setelah gol Pato di penghujung babak kedua. Gol kemenangan itu membuka catatan sejarah baru pertemuan kedua tim. Itulah kemenangan pertama Milan di kandang pemegang 9 tropi Liga Champions itu.
Apa yang menarik dari 3 pertandingan dan 3 kemenangan itu? Ketiganya diraih dengan comeback. Di tiga pertandingan tersebut Milan selalu kebobolan lebih dahulu dan tetap kalah sampai babak pertama berakhir. Barulah pada babak kedua, cerita kemenangan tersebut dimulai. Pertandingan tadi malam (25/10) adalah kemenangan ketiga secara beruntun. 3 kemenangan ini belumlah bisa dikatakan sebagai akhir dari krisis yang menimpa Milan sedari awal musim. “ Untuk bisa dikatakan keluar dari krisis, kami setidaknya membutuhkan 4 atau 5 kemenangan secara beruntun “, seru Tasotti, asisten pelatih Milan beberapa waktu lalu. Setuju!. 3 kemenangan memang penting. Tapi itu bukanlah akhir. Itu hanya awal yang harus dilanjutkan dengan kemenangan-kemenangan berikutnya. Bravo Rossoneri!!!!
Gini neh nasib jadi jomblo. Mau muda kek, tua nek, kalo masih jomblo siap-siap aja jadi ‘cuci tangan’. 24 tahun masih muda kan? Lajang yang diatas 27 tahun aja masih banyak. Jadi masih ngeleslah. Ngeles, bisa. Membantah, tidak. Jomblo sih!!!
Dua hari lalu ada akad nikah dan resepsi. Gak kenal ama kedua mempelai. Kalo cuma nama, tau lah. Toh namanya manten pasti biasanya juga jadi artis mendadak. Mendadak beken gitu. Kawan serumah dapat undangan. Aku? Ya nggak lah. Wong kenal juga nggak. Setelah pulang kondangan, mulailah si kawan cerita-cerita. A,b,c,d…dst. Ujung-ujungnya segera...segera. Segera menikah maksudnya. Sigh…..siapa coba yang gak pengen nikah. Aku kira semua jemaah jomblo juga pengen. Nikah, emang kodrat manusia untuk berpasang-pasangan. Nikah, cara benar mendapatkan keturunan dari darah daging sendiri. Nikah, pertautan cinta dua manusia. Nikah, penyaluran gairah biologis secara benar dan bertanggung jawab. Menikah juga hal yang sakral. Mitsaqon ghalizo..ikatan yang kokoh menurut bahasa al qur’an. Tapi menikah juga bukan perkara gampang. Gak bisa buru-buru dong. Menikah juga urusan tanggung jawab. Tapi semua ini dihadapan mereka-mereka yang sudah nikah, cuma dianggap ngeles doank. Ah alasan! Coba apa yang kamu takutkan? Soal tanggung jawab bukan Cuma urusan lelaki. Perempuan juga pasti dah miki soal itu. Soal nafkah? Bukan melulu urusan lelaki juga. Istri juga bisa kerja. Bisa cari duit. Jadi intinya bersama-bersamalah. Kehidupan rumah tangga diurus bersama. Tanggung jawab dibagi dua.
Kalo dah gini, giliran aku yang bengong dan cuma bisa narik nafas…sigh.
Hari ini (21/10) ada undangan dari kawan seangkatan. Seangkatan di kampus. Kedua mempelai temen satu angkatan. Inilah saatnya kami mengabadikan Revival el Mahbub. Revival adalah nama angkatan kami. Wuih..bahasanya mengabadikan segala. Mentang-mentang niye…yang cowok dari Kota Batik, Pekalongan. Yang cewek dari Aceh. Akad nikahnya di Aceh tanggal 22 Oktober besok. Jauh bo..coba di kasi tiket PP, pasti datang. Maunya…!!!
Ceritanya mirip kayak diataslah. Pesannya kira-kira gini...bagi yang masih jomblo, bersegeralah. Pernikahan tak seseram yang anda takutkan. Wow..impresif banget. Yang aneh bin ajaib, yang dorong-dorong untuk segera..segara tadi bukan hanya dari yang dah nikah. Tapi malah yang jomblo juga tak kalah semangat. Kebiasaan kita emang suka dorong-dorong kawan untuk maju. Giliran disuruh maju, malah ngeles. Parah!!!
Tanggal 24 Oktober ini, ada sahabat juga yang akan melaksanakan akad nikah. Di Bandung tempatnya. Kalo yang ini beritanya aku dah tau dari bulan lalu. Namanya juga teman, sejak berencana nikah pasti dah cerita-ceritalah. Bincang-bincang dari soal perkenalan mereka sampe persiapan-persiapan teknis menjelang pernikahan. Sampe-sampe urusan calon manten perempuan ke salon juga dibawa-bawa. Persiapan fisik kali ya. Jadi harus sering-sering ke salon. Perawatan tubuh. Hahahah…salude!!!
Tapi bagaimanapun, buat sahabat-sahabat yang akan mengakhiri masa lajang dan bersiap melangsungkan akad nikah, aku ucapkan selamat berbahagia. Selamat menempuh hidup baru. Semoga menjadi keluarga yang bahagia dan harmonis. Dikaruniakan keturunan yang baek dan bermanfaat.
Katakanlah bumi ini adalah sebuah bangunan. Punya dasar, lantai dan atap. Kita biasa mendengar istilah dasar bumi atau perut bumi untuk menegaskan hal yang dalam dan tersembunyi. Lantai merupakan kerak atau permukaan bumi dimana benda-benda berpijak. Sedangkan atap adalah tetapan atas batas tatapan kita terhadap angkasa. Langit melambangkan ketinggian. Masing-masing dari tiga unsur dasar bumi tersebut memiliki unsur-unsur pembentuk yang lain pula. Berkumpul, terikat dan membentuk satu kesatuan padu. Artinya materi-materi yang berkumpul, terikat dan membentuk tersebut bisa saja bergerak, bergeser atau menjauh. Tapi jangan tanya tentang pengaruh dari gerakan atau geseran tersebut. Bergeser sedikit saja, akibatnya sungguh dahsyat. Permukaan bumi akan bergoyang dan segala macam bangunan akan runtuh. Bagian paling atas dari permukaan bumi tempat kita hidup akan retak. Jika pergeseran itu terjadi di dasar laut, bisa berakibat Tsunami. Kita tentu ingat dahsyatnya Tsunami di Aceh. Entah berapa banyak korban jiwa. Korban harta mending tak usah disebut, saking banyaknya.
Belum hilang ingatan kita tentang Aceh, kita dikejutkan dengan gempa Jogja. Entah berapa nyawa yang hilang. Korban harta, sekali mending gak usah disebut. Beberapa waktu setelah itu bumi seperti tenang. Tak ada tanda-tanda bumi akan ‘menggeliat’ lagi. Alhamdulillah. Akan tetapi ternyata itu tak bertahan lama. Kali ini yang jadi target adalah Jawa Barat, dengan Tasikmalaya sebagai pusat gempa. Kita kembali berduka. Tepatnya Indonesia berduka. Setelah gempa Tasik, daerah-daerah lain seperti menunggu giliran kematian. Kita diliputi rasa cemas dan was-was. Di tengah kecemasan itu, jeritan dan air mata terdengar keras dari Padang dan sekitarnya. Sebagian daerah di Jambi juga ikut merasakan. Kembali, ratusan jiwa menjadi tumbal. Saat saya sangat cemas. Karena seorang sahabat baik saya berada di daerah gempa. Kecemasan semakin menjadi, karena SMS saya selalu saja gagal sampai. 2 hari kemudian barulah saya mengetahui kabarnya. Alhamdulillah dia selamat. Hanya tubuh bagian kanannya bengkak-bengkak tertimpa reruntuhan bangunan. Sahabat-sahabat saya di Jambi juga selamat.
Kota Padang belum bersih dari puing-puing, beberapa daerah lain sudah mendapat giliran, termasuk Jakarta.
Jika materi-materi di permukaan bumi ini adalah manusia, maka tentulah mereka sedang main domino. Setelah pemain lain melempar kartunya, mau tidak mau pemain disampingnya harus melempar kartu. Bergiliran. Bergantian. Jogja – Tasik – Padang – dst. Menurut data resmi dari Badan Meteorologi dan Geofisika saja sudah 49 kali terjadi gempa di seluruh wilayah Indonesia sejak pertengahan September lalu sampai hari ini (19/10). Kekuatan gempa berkisar 5,0 sampai 7,6 Skala Richter. 49 kali itu bukanlah bilangan yang sedikit untuk sebuah bencana besar seperti gempa. Dan sepertinya hal ini tak berhenti sampai disini. Mungkin daerah-daerah lain akan mendapat gilirannya juga. Tapi saya berharap itu tak akan terjadi. Tak ada lagi luka di atas luka bangsa yang belum kering ini. Tak ada lagi air mata, ketika air mata ribuan orang belum mengering. Tak ada lagi keranda mayat, ketika orang-orang masih berkabung. Semoga kita orang-orang yang kuat. Bangsa ini menjadi bangsa yang kuat. Berkali-kali dihantam musibah, tetap berusaha untuk bangkit dan berdiri. Dihantam lagi, bangkit lagi
Pidato Grand Syeikh Sayyid Tantowi mengenai aturan tentang pelarangan cadar di lembaga pendidikan Al Azhar seakan menghidupkan kembali rekaman perbincangan ulama klasik. Suara dan pendapat dari para cendekia dan pakar tersebut menggema kembali hari-hari ini. Mulai dari mereka yang mengatakan itu wajib, sunnat, dianjurkan sampai ide yang berlandas pada situasi dan kondisi. Jika situasi rawan pelecehan dari lelaki hidung belang atau kondisi kecantikan perempuan itu bisa jadi sebab sebuah pelecehan, maka dianjurkan bagi perempuan mengenakan cadar untuk menutup wajahnya. Suara yang mengatakan bahwa hal tersebut merupakan kebebasan individu tak kalah kencangnya. Mengutip tafsir Ibnu Abbas bahwa yang boleh tidak ditutup oleh perempuan adalah muka dan telapak tangan saja. Pemuka-pemuka agama, khususnya di Mesir juga tak ketinggalan menyampaikan pendapat mereka [RepublikaOnline, 13/10/2009]. Pembahasan soal cadar adalah hal biasa. Tapi ketika pembahasan ini dimulai oleh pemimpin tertinggi institusi Al Azhar, itulah yang membuatnya tak biasa.
Awalnya adalah kunjungan sang Grand Syeikh Sayyid Tanthowi ke salah satu lembaga pendidikan Al Azhar untuk putri dibilangan Distrik Nasr City. Di salah satu ruang kelas, beliau melihat salah seorang siswi mengenakan cadar padahal itu adalah sekolah khusus perempuan. Kemudian Syeikh Thantowi meminta siswi tersebut untuk melepas cadarnya, kemudian keluarlah ucapan tersebut, bahwa beliau ingin membuat aturan tentang pelarangan cadar di lembaga pendidikan Al Azhar untuk perempuan. Kunjungan itu sendiri diliput oleh media massa [RepublikaOnline 6/10/2009]. Nah dari berita itulah perbincangan tentang cadar mengemuka kembali. Bukan hanya soal pemakaian cadar di lembaga pendidikan Al Azhar, tapi melebar ke topik cadar secara umum. Arus isu bergerak, hingga sampai ke ranah tafsir tentang batasan aurat perempuan.
Syahdan, perkembangan isu membuat telinga Syeikh Thantowi agak panas. Beliau merasa media sudah menyalahartikan ucapannya. Kecuali itu, media juga tak menyampaikan berita tersebut secara lengkap. Termasuk mengapa beliau meminta siswi tersebut untuk menyingkap cadarnya. Diundang disebuah acara bincang-bincang ‘Al Bait Baitak’ yang merupakan salah satu program TV dari salah satu kanal TV besar di Mesir, Syeikh Tantowipun menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Katanya, bahwa beliau sama sekali tak melarang atau anti cadar. Hanya saja pendapat pribadi beliau bahwa cadar itu bukan terhitung ibadah melainkan hanya dari adat belaka. Mengapa beliau meminta siswi tersebut menyingkap cadarnya? Itu karena beliau ingin mengajak siswi itu berbicara, juga yang dikelas itu termasuk pengajarnya adalah perempuan. Siswi tersebut silahkan saja memakai cadar dari rumahnya sampai sekolah dan apel tetap dengan mengenakan cadar. Namun ketika diruangan kelas, dia bisa melepasnya [EraMuslim, 10/10/2009].
Patut diketahui, Al Azhar memisahkan sekolah perempuan dan sekolah laki-laki. Bahkan 3 fakultas ( Ushuluddin, Bahasa Arab dan Syari’ah wal Qonun) lokasinya sangat jauh dengan kampus putri. Kampus putri terletak di District Nasr City sedangkan 3 fakultas tersebut terletak di kawasan Darrasah, bersempadan dengan kawasan Khan Khalili yang merupakan salah satu tujuan wisata sejarah plus pasar tradisionalnya itu. Saya berhusnuzzon dengan Syaikh Tantowi bahwa beliau tidak ingin menciptakan goyangan di tubuh Al Azhar. Tak bisa dipungkiri, tak sedikit dari tokoh ulama Al Azhar maupun ulama jebolan Al Azhar yang mendukung atau menganjurkan cadar. Setidaknya memposisikannya sebagai kebebasan individu. Dan memang betul, bahwa itu kebebasan individu. Perempuan bisa dengan leluasa menentukan pilihannya untuk mengenakan cadar atau tidak dengan berbagai alasan. Entah itu alasan keagamaan, melindungi diri, menyelamatkan lelaki agar tak memfokuskan pandangannya ke wajah perempuan cantik, termasuk alasan kesehatan, misalnya alergi terhadap debu di musim panas. Dan membiarkan masalah ini menjadi pilihan perempuan, adalah jalan yang lebih baik.
Bukan baru kali ini saja persoalan tentang niqob (cadar) mengemuka. Bukan kali ini pula yang mengangkat kembali tema itu adalah Grand Syeikh Muhammad Sayyid Tontowi, pemimpin tertinggi institusi Al Azhar di Mesir. Mungkin yang baru dari pernyataan beliau adalah rencana peraturan tentang larangan mengenakan niqob di lembaga-lembaga pendidikan Al Azhar. Bukan hanya di kalangan universitas tapi di semua institusi yang berada dibawah naungan Al Azhar, termasuk rumah sakit. Efektifkah aturan itu nantinya? Atau dengan kata lain, apakah aturan itu nantinya akan ditaati?
Sedikit bercerita tentang kejadian bulan September lalu, ketika umat muslim di seluruh dunia sedang menjalankan ibadah puasa. Saat itu kami sedang ujian semester. Di aula tempat kami ujian, ada sekitar 50 mahasiswa pasca-sarjana. Dari puluhan mahasiswa itu ada 2 orang yang mengenakan jubbah, pakean arab untuk lelaki. Di hari ke dua ujian, Profesor Hamid Abu Thalib yang juga Ketua Bagian Mahasiswa Asing di kampus datang ke ruang ujian. Berjalan pelan dari bangku ke bangku untuk mengawasi. Ketika sampai di deretan bangku persis di depan saya, dia berhenti. Lalu mendekati untuk berbisik ke seorang kawan yang memakai jubbah tersebut. Tentu percakapan mereka tak saya dengar. Tapi terlihat si mahasiswa itu menganggu beberapa kali. Sang profesor menepuk-nepuk pundaknya lalu berjalan ke deretan bangku selanjutnya.
Ke esokan harinya, dua orang mahasiswa itu kembali mengenakan jubbah, yang mereka ganti hanya kopyah. Semula kopyah putih, kali ini dengan kopyah warna merah dengan balutan kain warna putih kopyah khas Azhar. Beruntung, Pak Hamid tak datang ke ruangan kami. Di hari ketiga, mereka tetap dengan pakean yang sama. Pak Profesor ternyata datang lagi ke ruangan kami. Kali ini dia berbicara kepada seluruh mahasiswa yang diruangan. Bukan hanya berbisik kepada dua orang mahasiswa dengan jubbah dan kopyah merah itu. Untuk sementara kami mengalihkan perhatian dari soal-soal ujian ke arahnya. Berdiri persis di dekat pintu ruangan, sembari melepas kacamata, bapak dengan postur tegak ini berkata:
“ Bukan soal boleh atau tidak boleh. Tapi Universitas berhak untuk punya aturan sendiri. Aturan untuk dihormati oleh mahasiswa dan segenap civitas akademika. Kampus adalah tempat terhormat, didatangi oleh orang-orang yang terhormat pula. Maka jika Universitas melarang mahasiswanya untuk memakai jubbah ke kampus, tolong hormati aturan itu. Taati aturan universitas tempat kalian belajar…”
Jubbah adalah pakean sehari-hari laiknya longdress yang dikenakan oleh lelaki arab. Di perkantoran, para pegawai tak dipernankan mengenakannya. Di banyak kampus dan lembaga pendidikan, jubbah juga tak diperkenankan. Termasuk di universitas Al Azhar. Jubbah yang diperbolehkan hanya jubbah khas Al Azhar. Yaitu jubbah 2 lapis dengan pasangan kopyah warnah merah. Itu biasanya dikenakan oleh para penghafal al qur’an dan para penceramah jebolan Al Azhar. Grand Syeikh Al Azhar atau Mufti Negara mengenakan jubbah seperti itu.
Tapi toh ternyata masih ada mahasiswa yang tak mengindahkan aturan tersebut. Para dosenpun tak terlalu ambil pusing dengan pakean mahasiswanya. Mahasiswa yang memakai celana ¾ yang sampe betis juga banyak. Pemakai sandal juga tak sedikit. Mahasiswa asing umumnya memakai sandal, apalagi ketika musim panas. Saya pun begitu, tak perduli musim panas atau dingin. Sandal itu lebih praktis. Pernah juga saya memakai baju sepakbola Chelsea ketika ujian. Tak ada masalah. Mungkin itu sebabnya para pemakai jubbah di kampus tak ambil pusing. Salah seorang kawan saya dari Madura di Fakultas Ushuluddin, tiap kali ke kampus kerap memakai jubbah putih.
Nampaknya, aturan tentang niqob untuk mahasiswi ini akan berjalan seperti itu juga. Kampus boleh mengeluarkan aturan, tapi mahasiswi tetap dengan keyakinan dan pilihannya. Terlebih bagi mereka yang berkeyakinan bahwa niqob itu dianjurkan untuk perempuan. Bagi saya peribadi, memakai niqob atau tidak itu hanya pilihan. Kalo mau silakan pakai, gak mau ya sudah jangan pakai. Maka semoga Allah merahmati Syeikh Sya’rowi ketika ditanya prihal niqob beliau menjawab: goiru mafrud wa goiru marfud [ tak perintahkan dan tak dilarang].
